Pertanian 19 Desember 2007 Mobilitas penduduk menjadi faktor utama dalam perubahan sosial di daerah pedesaan. Menurut kajian empirik, pendapat teoritisi dan ilmuwan sosial, berbagai faktor penyebab perubahan sosial di pedesaan (khususnya di Jawa) telah di mulai pada tahun 1950 dengan terjadinya proses involusi pertanian, disusul revolusi hijau sepuluh tahun kemudian dan pembangunan infrastruktur pada tahun 1980.
Dimulai 1990 sampai sekarang, perubahan sosial di pedesaan banyak disebabkan karena mobilitas penduduk. Pada masa ini, “booming” mobilitas penduduk keluar desa untuk ke kota bahkan keluar negeri semakin meningkat dari tahun ke tahun. Selain untuk belajar, mereka pindah keluar desa juga untuk bekerja. Faktor penyebab hal ini semakin kompleks, demikian pula proses dan dampak yang ditimbulkan. Demikian Prof Dr Ir H Sanggar Kanto MS dalam pidato pengukuhan berjudul “Mobilitas Penduduk dan Perubahan Sosial di Daerah Pedesaan”. Dikemukakan beberapa teori, di antaranya teori migrasi serta teori perubahan sosial, termasuk di dalamnya teori evolusi klasik, teori neoevolusi, serta teori fungsionalisme dan konflik.
Prof Sanggar membagi mobilitas penduduk menjadi dua, yaitu mobilitas permanen atau semi permanen yang disebut migrasi, serta mobilitas non-permanen yang meliputi sirkulasi (mobilitas secara geografis, repetitif dan siklikal dengan dimensi waktu antara 24 jam sampai satu tahun tanpa bermaksud untuk menetap di daerah tujuan) dan komutasi (mobilitas harian dengan dimensi waktu maksimal 24 jam, tanpa bermaksud untuk bermalam di daerah tujuan). Menyoroti migrasi non-permanen, Prof Sanggar mengatakan, sarana transportasi yang menghubungkan antara desa dan kota yang semakin lancar yang menjadi faktor penyebabnya di samping pola mobilitas musiman yang biasanya dilakukan oleh petani ketika kegiatan pertanian sedang tidak sibuk untuk melakukan sirkulasi dan komutasi. Selain itu, ia juga menyinggung slogan masyarakat Jawa yaitu ”Mangan Ora Mangan Waton Kumpul”.
Menurutnya slogan ini berlawanan secara diametral dengan niat ”kumpul ora kumpul waton mangan” sehingga menghasilkan slogan baru sebagai kompromi yaitu ”yo mangan, yo kumpul” melalui pola sirkulasi dan komutasi. Secara umum, disebut Prof Sanggar, faktor ekonomi sangat dominan menyebabkan mobilitas penduduk baik faktor pendorong dari desa diantaranya terbatasnya kesempatan kerja, kegiatan pertanian yang bersifat musiman serta rendahnya tingkat upah maupun faktor penarik dari kota diantaranya peluang dan kesempatan kerja yang relatif besar. Dikatakannya, meningkatnya daya tarik kota ini berkaitan dengan kebijakan pembangunan yang cenderung urban bias (bias perkotaan) sehingga calon migran mempersepsikan bahwa kehidupan di kota serba gemerlap.
Dalam hal mobilitas penduduk dan perubahan sosial di pedesaan, Prof Sanggar menggarisbawahi fenomena yang menurutnya menarik yang terjadi terutama terkait dengan gaya hidup, remitan, kebijakan pengembangan agroindustri, generasi muda dan sektor pertanian di pedesaan. Di bidang pendidikan misalnya, ditengarai animo lulusan SMA untuk melanjutkan kuliah di fakultas pertanian dan fakultas lainnya dalam lingkup agrokompleks semakin menurun. Padahal, mengutip pendapat WW Rostow, sektor pertanian dalam pembangunan nasional sangat penting. Sebuah negara agraris tidak mungkin mencapai tahap lepas landas tanpa kemajuan di bidang pertanian. Ditegaskannya, sektor pertanian yang tangguh akan mendukung berkembangnya industrialiasasi dan proses modernisasi. [nok]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar