
Mengetahui potensi sumberdaya lahan di masing-masing daerah atau wilayah sungguh merupakan suatu keharusan. Karena, hanya dengan cara itulah masing-masing daerah dapat mengetahui keunggulan atau kelemahannya. Agar dapat mengetahui potensi suatu wilayah, perlu dilakukan inventarisasi sumber daya lahan, yang selama ini lebih dikenal dengan survey tanah dan evaluasi lahan. Melalui kegiatan ini suatu wilayah dapat diketahui seberapa tinggi potensi yang ada, usaha-usaha pemanfaatan lahan apa yang bisa dilakukan serta dimana lokasi yang seharusnya bisa dikembangkan untuk mengusahakan komoditas-komoditas tertentu baik pertanian maupun non-pertanian. Selain itu, dapat juga diprediksi kendala-kendala yang akan dihadapi dan cara mengatasinya melalui kegiatan inventarisasi sumberdaya lahan.
Demikian Prof Dr Ir Mochtar Luthfi Rayes MSc dalam pidato pengukuhan berjudul “Pemanfaatan Teknologi Pengideraan Jauh dan Sistem Informasi Geografi dalam Inventarisasi dan Pengelolaan Sumberdaya Lahan”.
Prof Luthfi menyoroti berbagai masalah terutama berkaitan dengan berbagai musibah yang melanda Indonesia seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, dll yang berdampak pada masalah kerusakan sumberdaya lahan dan merosotnya kesejahteraan masyarakat. Selain itu, Prof Luthfi menggarisbawahi permasalahan utama Indonesia ke depan yaitu masalah ketersediaan pangan yang berkorelasi dengan semakin sempitnya lahan pertanian, produktivitas padi yang melandai, kegagalan diversifikasi pangan, serta konversi lahan yang terus berlangsung tanpa bisa dikendalikan.
Menyelesaikan masalah-masalah tersebut, Prof Luthfi menekankan perlunya pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografi (SIG) yang dapat diandalkan untuk mengetahui luasan lahan sawah, laju konversi hutan, luasan daerah yang kebanjiran, besarnya kerusakan akibat bencana gempa bumi, tsunami, dan lain-lain.
Prof Luthfi juga memaparkan berbagai kemajuan dalam bidang inventarisasi sumberdaya lahan seperti citra penginderaan, global positioning system (GPS), model elevasi digital, serta sistem informasi geografi.
Saat ini pemetaan tanah digital (digital soil mapping) telah mulai digalakkan di luar negeri, terutama di Amerika Serikat dan Kanada. Pemetaan tanah digital merupakan upaya membuat dan melengkapi data sistem informasi tanah menggunakan metode-metode observasi lapangan dan laboratorium yang digabungkan dengan pengolahan data secara spasial maupun non-spasial. Teknik-teknik automatis dalam SIG digunakan untuk memproses informasi-informasi tanah dengan lingkungannya.
Di masa depan, teknologi penginderaan jauh, sistem informasi geografi, maupun teknologi di bidang komputer atau digital, serta teknologi lainnya akan terus berkembang dan semakin canggih. "Teknologi telah dan akan membuat hidup kita menjadi lebih mudah, namun hanya mereka yang mngerti dan mampu memanfaatkan teknologi itulah yang dapat menikmati betapa mudah dan indahnya kehidupan ini. Tentunya ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi mahasiswa Program Studi Ilmu Tanah atau Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian" ujar Prof Luthfi mengakhiri pidato ilmiah. [nok]
Demikian Prof Dr Ir Mochtar Luthfi Rayes MSc dalam pidato pengukuhan berjudul “Pemanfaatan Teknologi Pengideraan Jauh dan Sistem Informasi Geografi dalam Inventarisasi dan Pengelolaan Sumberdaya Lahan”.
Prof Luthfi menyoroti berbagai masalah terutama berkaitan dengan berbagai musibah yang melanda Indonesia seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, dll yang berdampak pada masalah kerusakan sumberdaya lahan dan merosotnya kesejahteraan masyarakat. Selain itu, Prof Luthfi menggarisbawahi permasalahan utama Indonesia ke depan yaitu masalah ketersediaan pangan yang berkorelasi dengan semakin sempitnya lahan pertanian, produktivitas padi yang melandai, kegagalan diversifikasi pangan, serta konversi lahan yang terus berlangsung tanpa bisa dikendalikan.
Menyelesaikan masalah-masalah tersebut, Prof Luthfi menekankan perlunya pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografi (SIG) yang dapat diandalkan untuk mengetahui luasan lahan sawah, laju konversi hutan, luasan daerah yang kebanjiran, besarnya kerusakan akibat bencana gempa bumi, tsunami, dan lain-lain.
Prof Luthfi juga memaparkan berbagai kemajuan dalam bidang inventarisasi sumberdaya lahan seperti citra penginderaan, global positioning system (GPS), model elevasi digital, serta sistem informasi geografi.
Saat ini pemetaan tanah digital (digital soil mapping) telah mulai digalakkan di luar negeri, terutama di Amerika Serikat dan Kanada. Pemetaan tanah digital merupakan upaya membuat dan melengkapi data sistem informasi tanah menggunakan metode-metode observasi lapangan dan laboratorium yang digabungkan dengan pengolahan data secara spasial maupun non-spasial. Teknik-teknik automatis dalam SIG digunakan untuk memproses informasi-informasi tanah dengan lingkungannya.
Di masa depan, teknologi penginderaan jauh, sistem informasi geografi, maupun teknologi di bidang komputer atau digital, serta teknologi lainnya akan terus berkembang dan semakin canggih. "Teknologi telah dan akan membuat hidup kita menjadi lebih mudah, namun hanya mereka yang mngerti dan mampu memanfaatkan teknologi itulah yang dapat menikmati betapa mudah dan indahnya kehidupan ini. Tentunya ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi mahasiswa Program Studi Ilmu Tanah atau Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian" ujar Prof Luthfi mengakhiri pidato ilmiah. [nok]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar